2045: SENI MEMANDANG KEDEPAN

Sekitar tahun 1995, ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, saya membaca sebuah buku yang kemudian terus melekat dalam ingatan saya hingga hari ini. Judulnya The Art of the Long View, karya Peter Schwartz, seorang perencana strategi yang banyak membantu perusahaan-perusahaan besar dan lembaga-lembaga pemerintahan memahami masa depan melalui apa yang disebut scenario planning.

Pada usia yang masih muda, saya membaca buku itu sebagai bagian dari rasa ingin tahu seorang mahasiswa ekonomi tentang bagaimana dunia bekerja. Namun semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa pelajaran terpenting dari buku tersebut sesungguhnya bukan tentang ekonomi, bukan pula tentang bisnis. Pelajaran terpentingnya adalah bahwa masa depan tidak pernah lahir secara kebetulan. Masa depan dibentuk oleh kemampuan manusia untuk melihat lebih jauh daripada zamannya.

Peter Schwartz mengajarkan bahwa masalah terbesar manusia bukan ketidakmampuan memprediksi masa depan. Masalah terbesar manusia adalah ketidakmampuan membayangkan masa depan yang berbeda dari keadaan hari ini.

Karena itulah banyak organisasi gagal. Banyak perusahaan runtuh. Banyak negara tertinggal. Bukan karena mereka tidak memiliki sumber daya, tetapi karena mereka terlalu sibuk mengelola hari ini sehingga lupa mempersiapkan hari esok.

Tiga puluh tahun setelah membaca buku itu, saya sering merasa bahwa pelajaran tersebut menjadi semakin relevan bagi Indonesia.

Kita hidup dalam zaman yang dipenuhi informasi tetapi miskin perspektif. Setiap hari kita mengetahui apa yang sedang terjadi. Kita mengetahui siapa yang bertengkar dengan siapa. Kita mengetahui kontroversi terbaru. Kita mengetahui kesalahan terbaru pemerintah, partai politik, tokoh publik, atau siapa pun yang sedang menjadi pusat perhatian.

Tetapi semakin banyak informasi yang kita konsumsi, semakin jarang kita bertanya tentang satu hal yang paling penting: Indonesia seperti apa yang ingin kita wariskan pada tahun 2045?

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun justru di sanalah letak perbedaannya antara bangsa yang hanya bereaksi terhadap keadaan dan bangsa yang sedang membangun peradaban.

Sebab peradaban tidak dibangun dalam hitungan hari. Tidak pula dalam hitungan satu periode pemerintahan. Peradaban dibangun dalam satuan generasi. Ia membutuhkan kemampuan untuk melihat jauh melampaui kebisingan yang memenuhi ruang publik pada suatu masa.

Ketika para pendiri bangsa berbicara tentang Indonesia pada awal abad ke-20, mereka sesungguhnya sedang melakukan apa yang oleh Peter Schwartz disebut sebagai long view, pandangan jauh ke depan. Mereka membayangkan sebuah negara yang bahkan belum ada. Mereka memikirkan masa depan yang tidak akan sepenuhnya mereka nikmati sendiri. Mereka bekerja untuk generasi yang belum lahir.

Dan mungkin, menjelang satu abad kemerdekaan, inilah saat yang tepat bagi kita untuk kembali mempraktikkan seni yang sama: seni memandang ke depan.

Dalam beberapa minggu terakhir, perhatian publik tersita oleh begitu banyak peristiwa yang datang hampir bersamaan. Sebagian berupa perubahan regulasi, sebagian berupa kebijakan ekonomi, sebagian lagi berupa penataan kelembagaan negara. Seperti biasa, ruang publik segera dipenuhi perdebatan. Ada yang mendukung, ada yang menolak, ada yang curiga, ada yang menunggu.

Semua itu wajar dalam sebuah demokrasi.

Namun saya khawatir kita terlalu sering melihat setiap kebijakan sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, padahal sejarah mengajarkan bahwa perubahan besar hampir selalu hadir dalam bentuk yang tidak langsung terlihat.

Ketika Amerika Serikat membangun dirinya sebagai kekuatan ekonomi dunia, yang terlihat pada saat itu hanyalah rangkaian undang-undang, lembaga baru, dan keputusan-keputusan administratif yang tampak teknis. Ketika Singapura membangun fondasi kemakmurannya, yang terlihat hanyalah kebijakan perumahan, reformasi birokrasi, dan berbagai instrumen ekonomi yang bagi banyak orang saat itu mungkin terasa membosankan. Ketika Korea Selatan memulai transformasinya, yang muncul bukanlah keajaiban, melainkan serangkaian keputusan yang mengubah cara negara mengelola modal, industri, dan sumber daya yang dimilikinya.

Baru bertahun-tahun kemudian orang menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang menyaksikan pembangunan sebuah arsitektur besar.

Saya menggunakan istilah arsitektur karena bangsa-bangsa besar sesungguhnya tidak dibangun oleh proyek. Mereka dibangun oleh rancangan yang menghubungkan berbagai proyek ke dalam satu tujuan yang sama.

Sebuah jalan raya tidak banyak berarti jika tidak terhubung dengan kawasan industri. Kawasan industri tidak banyak berarti jika tidak terhubung dengan sistem keuangan. Sistem keuangan tidak banyak berarti jika tidak terhubung dengan strategi investasi. Dan investasi tidak banyak berarti jika tidak terhubung dengan visi pembangunan nasional.

Kemajuan selalu lahir ketika berbagai instrumen itu mulai bergerak dalam satu arah.

Karena itu saya melihat berbagai perubahan kebijakan yang muncul belakangan ini bukan sekadar sebagai regulasi. Saya melihatnya sebagai upaya untuk menyusun beberapa arsitektur besar yang akan menentukan apakah Indonesia mampu mencapai cita-citanya pada tahun 2045.

Arsitektur pertama adalah arsitektur penguasaan modal nasional. Selama puluhan tahun kita berbicara tentang pembangunan, tetapi terlalu sering bergantung pada modal yang berasal dari luar diri kita sendiri. Kini mulai terlihat upaya untuk memperkuat sistem keuangan nasional, memperbesar kemampuan menghimpun modal domestik, dan mengarahkan kekuatan investasi Indonesia bagi kepentingan pembangunan jangka panjang.

Arsitektur kedua adalah arsitektur pengelolaan kekayaan alam. Indonesia adalah negara yang kaya, tetapi sejarah kita juga menunjukkan bahwa kekayaan alam tidak otomatis menghasilkan kemakmuran. Yang menentukan bukan seberapa besar sumber daya yang dimiliki, melainkan bagaimana sumber daya itu dikelola. Berbagai perubahan mengenai devisa hasil ekspor, tata kelola komoditas strategis, dan pengaturan sumber daya alam menunjukkan adanya kesadaran bahwa kekayaan nasional harus memberikan manfaat yang lebih besar bagi masa depan bangsa.

Arsitektur ketiga adalah arsitektur investasi generasional. Banyak negara maju membangun lembaga-lembaga yang dirancang bukan untuk kebutuhan satu tahun atau satu periode pemerintahan, tetapi untuk puluhan tahun ke depan. Mereka memahami bahwa kemakmuran yang berkelanjutan membutuhkan institusi yang mampu mengubah kekayaan hari ini menjadi kekuatan bagi generasi berikutnya.

Arsitektur keempat adalah arsitektur penyelarasan kebijakan nasional. Selama ini kita sering melihat kebijakan berjalan sendiri-sendiri. Keuangan bergerak ke satu arah, industri ke arah lain, perdagangan ke arah yang berbeda. Padahal pembangunan yang berhasil selalu ditandai oleh kemampuan menyelaraskan berbagai instrumen negara menuju tujuan yang sama.

Dan akhirnya, arsitektur kelima adalah arsitektur Indonesia 2045 itu sendiri. Sebuah upaya untuk mulai berpikir dalam satuan generasi, bukan satuan tahunan. Sebuah upaya untuk memastikan bahwa setiap keputusan hari ini memiliki hubungan dengan masa depan yang ingin dicapai.

Tentu saja tidak ada yang bisa menjamin keberhasilan. Sejarah tidak pernah memberikan jaminan kepada siapa pun. Tetapi sejarah memberikan pelajaran yang lebih penting: tidak ada bangsa yang menjadi besar tanpa terlebih dahulu memiliki keberanian untuk berpikir jauh ke depan.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang Indonesia 2045, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada pertumbuhan ekonomi, lebih besar daripada pergantian pemerintahan, bahkan lebih besar daripada perdebatan politik sehari-hari.

Kita sedang berbicara tentang kemampuan sebuah bangsa untuk membayangkan dirinya dua puluh tahun ke depan, lalu secara sabar dan konsisten membangun jembatan menuju ke sana.

Dan mungkin, di tengah kebisingan yang memenuhi ruang publik hari ini, itulah seni yang paling perlu kita pelajari kembali.