ORKESTRA PRABOWONOMICS

Dalam perdebatan publik Indonesia, ada kecenderungan untuk membaca kebijakan pemerintah secara terpisah-pisah. Setiap program dibedah dalam ruangnya sendiri, diperdebatkan anggarannya, dipersoalkan targetnya, lalu dinilai berhasil atau gagal tanpa pernah benar-benar ditempatkan dalam konteks yang lebih besar.

Akibatnya, kita sering gagal melihat arsitektur yang sedang dibangun.

Hal itu tampaknya juga terjadi terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Makan Bergizi Gratis dibahas sebagai program gizi. Sekolah Rakyat dibahas sebagai program pendidikan. Koperasi Desa Merah Putih dianggap sekadar kebijakan koperasi. Program Tiga Juta Rumah dipandang sebagai proyek konstruksi. Kampung Nelayan Merah Putih diperlakukan sebagai program sektoral untuk masyarakat pesisir.

Padahal jika diperhatikan secara lebih cermat, berbagai program tersebut tampak memiliki benang merah yang kuat. Mereka bukan kebijakan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sebuah rancangan yang saling terhubung.

Mungkin karena itulah istilah yang paling tepat untuk menggambarkannya bukanlah kumpulan program, melainkan sebuah orkestra.

Dalam sebuah orkestra, setiap instrumen memainkan peran yang berbeda. Tidak semua menghasilkan bunyi yang sama. Bahkan jika didengar secara terpisah, sebagian nada mungkin terdengar tidak berhubungan satu sama lain. Namun ketika seluruh instrumen dimainkan secara bersamaan, muncul sebuah komposisi yang utuh.

Cara membaca seperti itu tampaknya lebih membantu untuk memahami apa yang sedang terjadi hari ini.

Makan Bergizi Gratis, misalnya, sering diperdebatkan semata-mata dari sisi biaya dan pelaksanaannya. Padahal program ini sesungguhnya berada pada persimpangan antara kebijakan sosial dan kebijakan ekonomi. Di satu sisi ia bertujuan memperbaiki kualitas gizi anak-anak Indonesia. Di sisi lain ia menciptakan permintaan pangan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jutaan porsi makanan yang harus disediakan setiap hari secara otomatis membentuk pasar baru bagi petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha pangan di berbagai daerah.

Di titik inilah program tersebut mulai terhubung dengan Koperasi Desa Merah Putih.

Selama bertahun-tahun, persoalan utama ekonomi rakyat bukan semata-mata rendahnya produksi, melainkan lemahnya organisasi produksi. Petani memproduksi sendiri-sendiri. Nelayan menjual hasil tangkapan sendiri-sendiri. Skala usaha yang kecil membuat posisi tawar mereka lemah dalam rantai distribusi. Koperasi Desa Merah Putih tampaknya dirancang untuk menjawab persoalan tersebut dengan mengonsolidasikan kekuatan ekonomi rakyat pada tingkat desa.

Jika Makan Bergizi Gratis menciptakan permintaan, maka koperasi menyediakan mekanisme agar permintaan itu dapat dijawab oleh produksi rakyat sendiri.

Hubungan yang sama terlihat pada Kampung Nelayan Merah Putih. Program ini tidak hanya menyangkut pembangunan rumah atau penataan kawasan pesisir. Di dalamnya terdapat gagasan yang lebih luas tentang bagaimana wilayah pesisir diintegrasikan ke dalam strategi pembangunan nasional. Nelayan tidak lagi diposisikan sebagai kelompok penerima bantuan, melainkan sebagai bagian penting dari rantai pasok pangan nasional.

Perspektif yang sama juga dapat digunakan untuk membaca Program Tiga Juta Rumah.

Banyak kritik muncul karena program ini dianggap terlalu besar dan terlalu mahal. Namun sejarah pembangunan menunjukkan bahwa sektor perumahan hampir selalu menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi yang paling kuat. Perumahan tidak hanya menghasilkan rumah. Ia menggerakkan industri semen, baja, kaca, keramik, kayu, furnitur, jasa konstruksi, logistik, hingga sektor pembiayaan.

Lebih penting lagi, rumah merupakan aset ekonomi pertama yang dimiliki sebagian besar keluarga. Karena itu pembangunan perumahan sesungguhnya bukan hanya soal menyediakan tempat tinggal, melainkan juga membangun fondasi kesejahteraan jangka panjang.

Dalam konteks tersebut, Program Tiga Juta Rumah tampak lebih dekat dengan strategi pembangunan ekonomi daripada sekadar kebijakan sosial.

Sementara itu, Sekolah Rakyat melengkapi sisi lain dari bangunan yang sama. Jika Makan Bergizi Gratis berusaha memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, maka Sekolah Rakyat berupaya memastikan mereka memperoleh akses pendidikan yang lebih baik. Dengan kata lain, yang diperkuat bukan hanya kondisi ekonomi keluarga saat ini, tetapi juga kapasitas generasi berikutnya.

Ketika berbagai program tersebut ditempatkan dalam satu kerangka yang sama, mulai terlihat pola yang menarik. Pemerintah tampaknya sedang berusaha membangun empat fondasi sekaligus: kesehatan, pendidikan, pendapatan, dan aset keluarga.

Maka, Makan Bergizi Gratis memperkuat kualitas manusia. Sekolah Rakyat memperkuat mobilitas sosial.Koperasi Desa Merah Putih memperkuat ekonomi rakyat. Program Tiga Juta Rumah memperkuat kepemilikan aset keluarga. Kampung Nelayan Merah Putih memperluas transformasi tersebut ke wilayah pesisir.

Masing-masing memiliki target dan instrumen yang berbeda, tetapi semuanya bergerak menuju sasaran yang sama: memperkuat fondasi masyarakat dari bawah.

Karena itu, mungkin terlalu sederhana jika Prabowonomics hanya dipahami sebagai target pertumbuhan ekonomi delapan persen atau sekadar kumpulan proyek pemerintah. Yang mulai terlihat justru sebuah upaya untuk menghubungkan kebijakan sosial, ekonomi, pendidikan, dan perumahan ke dalam satu kerangka pembangunan yang saling menopang.

Apakah rancangan tersebut akan berhasil sepenuhnya tentu masih harus dibuktikan. Pelaksanaan akan menjadi ujian yang sesungguhnya. Namun pada tahap ini, yang menarik untuk dicatat adalah adanya upaya menyusun berbagai instrumen kebijakan ke dalam sebuah desain yang lebih utuh.

Dalam banyak negara, transformasi besar biasanya lahir ketika berbagai kebijakan yang tampak terpisah mulai bergerak dalam arah yang sama. Bukan karena setiap program sempurna, melainkan karena seluruhnya memainkan fungsi yang berbeda dalam sebuah tujuan yang sama.

Jika perspektif itu digunakan, maka Prabowonomics mungkin lebih tepat dipahami sebagai sebuah orkestra pembangunan. Dan seperti setiap orkestra, kekuatannya tidak terletak pada satu instrumen, melainkan pada kemampuan menghubungkan semuanya menjadi sebuah komposisi yang utuh.

Fahri Hamzah, Penulis Buku #TrilogiKesejahteraan.